Belakangan.
Saya sedang gandrung gandrungnya dengan fotografi analog.
Saking gandrungnya saya sampai begitu bersemangat menuliskan dan menjadikannya postingan perdana blog saya setelah satu tahun lamanya tanpa postingan.
:"')
Jadi,
Apa itu fotografi analog?
Fotografi analog atau biasa juga disebut fotografi film adalah ketika kita menengok kembali ke masa lampau dimana kamera masih menggunakan media film untuk menangkap gambar. Kamera analog / kamera film ini diproduksi di medio 60-an hingga awal 2000-an dan tentu saja sekarang ini sudah dihentikan produksinya. Berganti dengan era fotografi digital dengan sensornya yang makin hari makin canggih.
NB: Untuk penjalasan lebih jauh tentang fotografi analog bisa baca tulisan yahudnya mas Taufan Wijaya dimari, atau cerita tentang analog dan digital fotografi di blognya mas R Kusumabrata dimari.
Fotografi analog itu ribet, jelas.
Semuanya serba manual, mulai dari mencari fokus sampai mengatur segitiga sakral fotografi (aperture, shutter speed, iso). Tapi tentu itu akan menjadi sarana yang yahud untuk lebih mendalami fotografi.
Selain itu kita juga tidak bisa langsung melihat hasil foto yang baru kita ambil, ditambah lagi kita hanya bisa mengambil 36 atau 24 jepretan untuk setiap satu buah film yang kita pakai. Tapi itu semua akan mengajarkan kita untuk disiplin, ga asal jepret serta membuat setiap foto yang kita ambil terasa makin berharga.
Tapi justru semua keribetan itulah yang menarik minat saya.
Bagi saya sendiri fotografi analog adalah fotografi sesungguhnya.
Fotografi analog lebih dari sekedar menekan tombol dan menyimpan banyak gambar lalu melakukan olah digital sepuasnya.
Dan lagi, sensasi mengkokang pemutar film lalu mendengarkan suara jepretan ketika tombol shutter dipencet bagi saya tiada duanya. Dan elemen kejutan akan hasil film yang baru bisa dilihat hasilnya setelah dilakukan proses cuci dan scan adalah sesuatu yang menyenangkan, setidaknya bagi saya. Heheheu.
Sebenarnya, ketertarikan saya dengan fotografi film ini berawal dari beberapa koleksi lensa manual/manula (lensa copotan kamera analog) yang saya miliki.
Dipadukan dengan kamera digital saya, lensa lensa manula ini begitu membuat saya tertarik dengan tone khas dan bokehnya yang ajaib.
Jadi, kenapa ga sekalian coba lensa lensa ini dengan kamera aslinya, kombinasi yang ajib pikir saya.
Lalu,
Jadilah saya berburu.
Perburuan saya menghasilkan Minolta XG1 dengan kondisi, well, yah masih layak pakai lah. Saya menebusnya seharga 400 ribu di buka*lapak.
Masih dari bukala*pak, saya menapatkan pula 3 buah film Kodak Colorplus 200, seharga 65 ribu sebuah.
Ga lama, saya nambah satu lagi stok saya dengan meminang sebuah Fujichrome Velvia 100, film positif .. dan expired. Harganya? Saya lupa.
Nb : Apa itu film? Apa itu film positif? Silahkan main ke blognya mas Bekti Supriadi dimari untuk penjalasan menganai roll film secara rinci.
Nb (lagi) : Film pun layaknya indom*ie yang biasa kita santap sehari-hari ada yang fresh ada pula yang kaduluarsa/expired. Apa maksud dan apa pula perbedaannya? Silahkan baca baca blognya mba Anonvemous dimari atau blognya mas Andyka Setyabudi dimari.
28/2.8 - Kodak Colorplus 200:
Lalu,
Bagaimana sebuah foto yang diambil di kamera jadul dan disimpan dalam media gulungan film bisa sampai terupload di postingan blog.
Yep, perlu dilakukan proses develop/cuci dan scan atas film mentah tersebut untuk bisa dinikmati dan menjadi sebuah foto.
Sekarang ini tempat proses develop dan scan sudah cukup sulit dijumpai, saya sendiri biasa melakukan cuci dan scan di Master Foto di Jalan Raya Arjuno, Sawahan, Surabaya. Konon, studio ini jadi satu-satunya studio foto di Surabaya yang masih melayani cuci dan scan film.
Sedang di ranah maya, saya menemukan dua jagoan yang untuk cuci dan scan film. Semuanya saya temukan di instagram.
Di Jakarta ada Soup n Film
Di Bandung ada Hipercatlab
Sedangkan untuk berburu film dan pernak pernik analog ada dua jagoan yakni Morning Giant Shop & Socca. Dua duanya saya temukan pula di instagram.
Setelah menghabiskan 2 roll film pertama, justru saya makin ketagihan.
Elemen kejutan dari hasil cuci scan yang paling saya sukai.
Salah satunya hasil film expired. Walaupun terkesan 'cacat', tapi justru itulah yang membuat saya tertarik.
Saya pun menambah stok film saya,
Kali ini saya meminang Fujichrome Sensia 100 dan Kodak Gold 100, masing masing satu buah dan keduanya expired.
28/2.8 - Kodak Colorplus 200:
28/2.8 - Kodak Gold 100 (exp):
Sayangnya kebersamaan dengan Minolta XG1 saya tidak berlangsung lama. Baru beberapa kali pake, kokang film di kamera saya macet. Belum habis film yang saya pakai saat itu terpaksa saya gulung untuk kemudian membongkar kamera saya.
Tapi, namanya lagi seneng senengnya, saya tentu ga menyerah begitu saja. Ga lama, saya kembali meminang satu kamera baru dan menambah beberapa film juga.
Saya sedang gandrung gandrungnya dengan fotografi analog.
Saking gandrungnya saya sampai begitu bersemangat menuliskan dan menjadikannya postingan perdana blog saya setelah satu tahun lamanya tanpa postingan.
:"')
**********
Jadi,
Apa itu fotografi analog?
Fotografi analog atau biasa juga disebut fotografi film adalah ketika kita menengok kembali ke masa lampau dimana kamera masih menggunakan media film untuk menangkap gambar. Kamera analog / kamera film ini diproduksi di medio 60-an hingga awal 2000-an dan tentu saja sekarang ini sudah dihentikan produksinya. Berganti dengan era fotografi digital dengan sensornya yang makin hari makin canggih.
NB: Untuk penjalasan lebih jauh tentang fotografi analog bisa baca tulisan yahudnya mas Taufan Wijaya dimari, atau cerita tentang analog dan digital fotografi di blognya mas R Kusumabrata dimari.
Fotografi analog itu ribet, jelas.
Semuanya serba manual, mulai dari mencari fokus sampai mengatur segitiga sakral fotografi (aperture, shutter speed, iso). Tapi tentu itu akan menjadi sarana yang yahud untuk lebih mendalami fotografi.
Selain itu kita juga tidak bisa langsung melihat hasil foto yang baru kita ambil, ditambah lagi kita hanya bisa mengambil 36 atau 24 jepretan untuk setiap satu buah film yang kita pakai. Tapi itu semua akan mengajarkan kita untuk disiplin, ga asal jepret serta membuat setiap foto yang kita ambil terasa makin berharga.
Tapi justru semua keribetan itulah yang menarik minat saya.
Bagi saya sendiri fotografi analog adalah fotografi sesungguhnya.
Fotografi analog lebih dari sekedar menekan tombol dan menyimpan banyak gambar lalu melakukan olah digital sepuasnya.
Dan lagi, sensasi mengkokang pemutar film lalu mendengarkan suara jepretan ketika tombol shutter dipencet bagi saya tiada duanya. Dan elemen kejutan akan hasil film yang baru bisa dilihat hasilnya setelah dilakukan proses cuci dan scan adalah sesuatu yang menyenangkan, setidaknya bagi saya. Heheheu.
**
Sebenarnya, ketertarikan saya dengan fotografi film ini berawal dari beberapa koleksi lensa manual/manula (lensa copotan kamera analog) yang saya miliki.
Dipadukan dengan kamera digital saya, lensa lensa manula ini begitu membuat saya tertarik dengan tone khas dan bokehnya yang ajaib.
Jadi, kenapa ga sekalian coba lensa lensa ini dengan kamera aslinya, kombinasi yang ajib pikir saya.
Lalu,
Jadilah saya berburu.
Perburuan saya menghasilkan Minolta XG1 dengan kondisi, well, yah masih layak pakai lah. Saya menebusnya seharga 400 ribu di buka*lapak.
Masih dari bukala*pak, saya menapatkan pula 3 buah film Kodak Colorplus 200, seharga 65 ribu sebuah.
Ga lama, saya nambah satu lagi stok saya dengan meminang sebuah Fujichrome Velvia 100, film positif .. dan expired. Harganya? Saya lupa.
Nb : Apa itu film? Apa itu film positif? Silahkan main ke blognya mas Bekti Supriadi dimari untuk penjalasan menganai roll film secara rinci.
Nb (lagi) : Film pun layaknya indom*ie yang biasa kita santap sehari-hari ada yang fresh ada pula yang kaduluarsa/expired. Apa maksud dan apa pula perbedaannya? Silahkan baca baca blognya mba Anonvemous dimari atau blognya mas Andyka Setyabudi dimari.
**
Daaaaaan ....
Setelah segala amunisi saya lengkap, bodi kamera, lensa, stok film, granat, ranjau, jaket kevlar, dan ..... ehm .... tak sabar, maka saya segera membawa jalan jalan kawan baru saya menyusuri jalanan Tunjungan, Surabaya.
Amunisi lengkap :
Setelah segala amunisi saya lengkap, bodi kamera, lensa, stok film, granat, ranjau, jaket kevlar, dan ..... ehm .... tak sabar, maka saya segera membawa jalan jalan kawan baru saya menyusuri jalanan Tunjungan, Surabaya.
Amunisi lengkap :
28/2.8 - Kodak Colorplus 200:
28/2.8 - Fujichrome Velvia 100
(Ini entah karena salah atau proses cuci scan yang ajaib, hasil film warna bisa berubah jadi hitam putih dan, yah .... overexposure)
Lalu,
Bagaimana sebuah foto yang diambil di kamera jadul dan disimpan dalam media gulungan film bisa sampai terupload di postingan blog.
Yep, perlu dilakukan proses develop/cuci dan scan atas film mentah tersebut untuk bisa dinikmati dan menjadi sebuah foto.
Sekarang ini tempat proses develop dan scan sudah cukup sulit dijumpai, saya sendiri biasa melakukan cuci dan scan di Master Foto di Jalan Raya Arjuno, Sawahan, Surabaya. Konon, studio ini jadi satu-satunya studio foto di Surabaya yang masih melayani cuci dan scan film.
Sedang di ranah maya, saya menemukan dua jagoan yang untuk cuci dan scan film. Semuanya saya temukan di instagram.
Di Jakarta ada Soup n Film
Di Bandung ada Hipercatlab
Sedangkan untuk berburu film dan pernak pernik analog ada dua jagoan yakni Morning Giant Shop & Socca. Dua duanya saya temukan pula di instagram.
********
Setelah menghabiskan 2 roll film pertama, justru saya makin ketagihan.
Elemen kejutan dari hasil cuci scan yang paling saya sukai.
Salah satunya hasil film expired. Walaupun terkesan 'cacat', tapi justru itulah yang membuat saya tertarik.
Saya pun menambah stok film saya,
Kali ini saya meminang Fujichrome Sensia 100 dan Kodak Gold 100, masing masing satu buah dan keduanya expired.
28/2.8 - Kodak Colorplus 200:
28/2.8 - Kodak Gold 100 (exp):
Gantenk ... kameranya |
Sayangnya kebersamaan dengan Minolta XG1 saya tidak berlangsung lama. Baru beberapa kali pake, kokang film di kamera saya macet. Belum habis film yang saya pakai saat itu terpaksa saya gulung untuk kemudian membongkar kamera saya.
Tapi hasilnya nihil.
Penyakit lama kamera analog memang, sekali dia 'sakit', sulit sekali untuk menyembuhkannya.
Hal ini cukup wajar mengingat makin sulitnya mencari tukang servis kamera yang masih melayani servis kamera analog serta sulitnya mencari spare part kameranya sendiri.
![]() |
Almarhum |
Tapi, namanya lagi seneng senengnya, saya tentu ga menyerah begitu saja. Ga lama, saya kembali meminang satu kamera baru dan menambah beberapa film juga.
Saya sudah menghabiskan beberapa film dengan kamera baru saya, dan akan segera saya post review dan hasil fotonya setelah saya selesei develop dan scan.
**
So, bagaimana fotografi dengan analog menurut u guys.
Kuno yak? Emang.
Ribet yak? Pol.
Hey, tapi bukankah keindahan tak selalu instan, heuhehe :))
Mas beli roll film di surabaya dimana ya ?
BalasHapusCari di ig immpossibleproject. Ada kontak di surabaya. Bisa cod di kfc a yani
HapusBanyak mas, kemaren saya nemu di bl atau toped, filter aja lokasi di surabaya. Banyak kok yang jualan.
Hapusbiaya cetak film nya brapa mas kalo boleh tau? matur suwun
BalasHapusDi hipercatlab bandung 35k. Di master photo surabaya 55k. Di malang ada darimasalalu tp blm tau pricelist
HapusKalo cetak kayanya hampir semua studio foto bisa deh mba, dan harganya menyesuaikan ukuran.
HapusCuma kalo yang mbanya maksud develop film ya, sepaket seinget saya 60k dah cuci plus scan high resolution, satu roll isa sampe ratusan Mb ukurannya.
Minggu ini saya mau develop lagi, infonya saya update kalo udah develop lagi ya mba hehe.
NB :
HapusUpdate info ni baru minggu lalu (11/2/18) saya cuci scan di master foto tarifnya 60k untuk proses develop dan scan. Untuk scan sendiri tarifnya sama untuk resolusi foto high ataupun medium.
Cuci film di Jl. arjuno berapa lama ya mas? Terimakasih
BalasHapusSaya kapan hari itu 2 hari sdh bisa ambil
HapusSaya selama ini anter pagi/siang, malemnya dah bisa diambil.
HapusYang paling lama sib anter pagi/siang, besok pagi/siangnya dah bisa diambil gitu mba.
di master photo surabaya masih bisa utk cuci cetak? saya dm ke ig @malanganalog utk cari tau di malang katanya sudah tidak ada lagi. komunitas analog disana cuci cetak kolektif ke @dari_masalalu utk dikirim ke bandung
BalasHapusOooh berarti dr masa lalu cuma buka titipan skrg? Master photo surabaya masih nerima
HapusBetul mas, sebelum main analog saya udah cari info di sekitaran jatim itu cuma master foto yang masih bisa develop film. Di jateng/jogja malah gaada. Cuma mentok di jkt atau bandung.
HapusKalo master masih nerima kok mas, minggu ini saya mau develop lagi, infonya saya update kalo saya dah kesana lagi ya mas.
NB :
HapusUpdate info ni baru minggu lalu (11/2/18) saya cuci scan di master foto tarifnya 60k untuk proses develop dan scan. Untuk scan sendiri tarifnya sama untuk resolusi foto high ataupun medium.
Numpang kasih info juga. Di jogja msh ada tempat cuci & scan d central photo jln urip sumoharjo. Br kmrn bngt sy kesana ktnya sih bisa.
HapusJogjaaa siaaaap.
HapusSalam kokaang hehehe.
Selamat membakar film mas :D, berbagi info aja, di surabaya sendiri setahu saya ada 2 komunitas analog, 1) Surabaya Analog Fotografi dan 2) Kokaang aja. Keduanya aktif di facebook. Untuk jasa Service analog maupun lensa, ada 2 juga. Di Pak Lasmono dan Pak Ahmad Benowo.
BalasHapusWew makasih mas informasinya informatif sekali.
HapusMungkin untuk Pak Lasmono dan Pak Ahmad Benowonya bisa sekalian ditambahkan sama alamat lengkapnya biar nanti bisa saya tambahkan di postingan saya informasinya mas.
Untuk Pak Lasmono sebelumnya buka toko servis kamera analog di pasar genteng, sepertinya sekarang buka toko di rumah sendiri, kalo ga salah di sekitaran rungkut. Kalo pak Ahmad di Pondok benowo indah, no telp nya 0817 0352 2327
HapusSiap.
HapusMakasih mas.
Salam kokang heheheu.
Pak mohon info tempat pencucian film kamera di surabaya alamat nya dimana ya? Cepet kasih info mas by WA 085730185607 . Pleaseee....
BalasHapusJl. Arjuno, Sawahan, Surabaya City, East Java 60251
HapusCoba cek google map
Itu dah di jawab mas, alamatnya master foto.
HapusAda stock film dan bisa nitip cuci juga area Surabaya
BalasHapuswww.instagram.com/kamerakayu
Siaaap. Sudah saya follow ya ig nya.
HapusSalam kokang, cak!
wihh keren kaa sukses selalu
BalasHapusagen viagra
pil biru
obat hammer
Mau tanya dong nanti kita kalo nyuci film dapet cd apa bawa fd sendiri??
BalasHapusKalau di master photo sby saya dpt cd
HapusKalau scan n dev online gtu di share via dropbox
Kalau tempat cuci roll film type ECN-2 itu dimana ya, saya cari dari kodak express, konica, fuji, di online gk ada yg nerima dev & scan.
BalasHapusKalau ada emangnya di daerah sidoarjo dan surabaya langsung dibalas